Senin, 23 Februari 2015

Trauma


Azzam tipe anak yang gampang bergaul, gampang beradaptasi dengan lingkungan baru, yaa cukup 2 hari saja untuk mengkondisikan tempat, lalu terbiasa.
Seperti di kontrakan yang baru ini, hampir satu bulan kami pindah kontrakan disini, tempat yang sangat berbeda dengan kontrakan yang lama. Dulu tinggal di lingkungan penduduk, kanan kiri depan itu rumah warga, tapi sekarang di lingkungan sekolah. Jadi, kontrakan yang di apit sekolah, kiri sekolah SD, depan TK plus penitipan anak dan kanan sekolah TK. Tapi, sebelum sekolahan, sebelah kanan kiri adalah rumah ibu kontrakan yang jaraknya hanya sebatas tembok saja, maksudnya tembok yang menyatu gitu hehehe ssttt kalau berbicara jangan keras-keras karena nanti kedengaran tetangga :D

Ibu kontrakan ku itu baiiiiiikkkk sekali, ramah dan lembut, gak pernah marah sama sekali selama aku disini. Marah kepada anak pun bernada rendah, ku ingin seperti beliau. Mungkin karena lama menanti memiliki anak, 7 tahun penantiannya, jadinya sayang sama anak atau emang tipe orang yang sayang kepada anak-anak, entahlah yang jelas ibunya itu baik, bapaknya pun baik tapi pernah ku dengar marah kepada anak sekali, tapi wajar kalau itu.

Berbeda dengan tetangga sebelah kiri, masnya bapak kontrakan. Dulu waktu awal disini memang sudah diberi tahu bahwa tetangga sebelah itu kalau bicara nadanya keras seperti marah tapi orangnya baik. Memang ku dengar beberapa kali seperti orang marah, entah sedang berbicara dengan siapa.

Dengan begitu, menjadi momok yang menakutkan bagi azzam. namanya anak-anak kalau bermain gak ketinggalan dengan teriakan. pagi hari, saat azzam mau kesekolah ku antar pakai sepeda, tadinya dia di depan lalu tiba-tiba masuk kedalam rumah dengan ketakutan "mi, tadi ada orang nakal kok" adunya dengan muka takut
"emang azzam di apain" tanyaku sembari mengeluarkan sepeda
"kepalanya azzam di gini in" mempraktekan, kepala di pegang atau di jorokkan
entahlah, itu tanda sapaan atau memang di jorokkan, ketika aku keluar dan azzam nunjuk orang tersebut, ku lihat orangnya tapi orang itu sembunyi di balik tembok. ya sudahlah, ku kasih tau saja sama azzam, bahwa orang itu baik, tadi itu cuma pegang kelapa karena azzam lucu sebagai tanda perkenalan, bapak itu pengen kenal den. azzam pun mengangguk.

Tapi, ternyata anggukan itu hanya sebatas anggukan, sampai sekarang azzam kalau lihat tetangga sebelah selalu ketakutan. seperti kemaren siang, orang tersebut kebetulan sedang di depan teras (teras ketiga rumah jadi satu) membuat meja atau apalah pesanan sekolah, jadi seharian di depan rumah. Sepulang sekolah azzam sepedaan di teras, tahu kalau ada bapak itu dia masuk dan hanya bisa ngintip di jendela. 
Tiba-tiba azzam masuk dengan ngos-ngosan dan berwajah ketakutan
"ada apa dek" tanyaku
"orang itu nakal kok mi" mau nangis
"emang azzam tadi ngapain" 
"azzamnya cuma di depan kok mi" ruang tamu maksudnya

Memang ku dengar bapak tersebut berbicara dengan orang, nadanya seperti marah-marah, aku juga takut sebenarnya, aku takut dengan orang marah, kemungkinan azzam juga seperti itu. jadi kasihan dengan azzam, trauma kalau lihat bapak itu, setiap lihat bapak itu dia masuk rumah tergesa-gesa seperti orang takut. bagaimana ya biar azzam gak takut lagi? sepertinya bapak itu harus sering banyak senyum, jadi walau nadanya keras kalau lihat wajah berseri jadi tidak menakutkan. masalahnya, nadanya marah, wajah juga cemberut, makanya bikin serem, aye aja takut :((

Tidak ada komentar:

Posting Komentar